PERINGATAN ANALISIS TEKNIKAL BURSA SAHAM
KEPADA PARA ELITE POLITIK

Catatan pendahuluan:
"Artikel ini telah dimuat di harian ekonomi Moneter Indonesia pada tanggal 14 Juni 2000 ketika IHSG berada pada angka 476 dan sedang diamati apakah proses pembentukan gelombang yang kelima untuk meneguhkan arah gejala turun yang kuat itu, sedang terjadi.
Surat susulan tertanggal 20 Juni ke harian yang sama, mengandung komentar bahwa indeks pada tingkat 490 sedang mendekati garis penghambat dengan harapan akan terjadinya suatu penembusan tidak lama lagi, khususnya berdasarkan perkiraan akan adanya suatu susunan kabinet tanpa resistansi. Adalah menarik bahwa itu terjadi esok harinya pada nilai 494,5 namun surat itu baru dipublikasikan pada tanggal 24 Juni sewaktu IHSG sudah bergerak ke samping. Sejak itu paling sedikit tujuh gelombang telah terbentuk yang sedang menjauhi garis penghambat sebelumnya, sehingga memberikan konfirmasi kuat bahwa suatu titik tembus menjauh (break away) telah terjadi dan haluan bunuh diri telah berubah ke arah penyelamatan diri.
Kini tanggal 25 Agustus 2000, masyarakat sedang ribut tentang "penjualan panik bursa saham" karena indeks telah jatuh sebanyak 4.1% namun tindak memperhatikan pesan analisis teknikal bahwa krisis politik tahun ini pernah melahirkan penurunan yang lebih buruk: 19 Januari sebesar 4.3%, 17 April - 4.9% dan 29 Mei - 4.29 %. Para pakar analisis teknikal tentu tidak akan ikut panik, karena arah gejala dengan jelas bergerak ke samping sehingga menunjukkan krisis politik telah selesai untuk sementara waktu selama tahun 2000."

Dunia ekonomi sedang mengamati dengan berdebar-debar apakah yang akan terjadi dalam waktu dekat menjelang akhir tahun pertama masa reformasi. Bidang ekonomi kini sedang terusik faktor politik yang pengaruhnya terasa semakin kuat, meskipun secara normal memang mestinya merupakan bagian dari kalangan pemerintahan. Sudah tentu penulis tidak berkompeten untuk memberi komentar atas seluk beluk politik, namun karena keampuhan dayanya secara nasional bahkan internasional, dampak akhirnya akan dirasakan oleh semua lapisan masyarakat. Tolok ukur dampak demikian dapat terlihat pada salah satu indikator ekonomi yang penting dalam masyarakat modern, yaitu indeks harga saham gabungan bursa setempat, dalam hal ini IHSG BEJ.
Peringatan dalam judul artikel ini bukanlah berasal dari penulis, karena sudah tertanam dalam perilaku IHSG BEJ, sedangkan penulis hanya mengungkapkannya karena memang berprofesi dalam upaya pembacaan/pengertian grafik-grafik yang dihasilkan oleh bursa saham.

Tulisan ini berfokus pada analisis teknikal yang berdasarkan konsep bahwa faktor apa pun yang telah dijadikan pertimbangan oleh para pelaku di bursa (saham mau pun komoditi) untuk mengambil keputusan jual-beli, secara kolektif berpengaruh pada tingkat harga yang mencerminkan hasil interaksi antara permintaan dan penawaran secara total. Semua faktor tersebut yang dikenal sebagai unsur-unsur fundamental dengan demikian telah masuk sebelumnya ke dalam bursa dan direfleksikan dalam gerak harga dan volume yang belakangan terjadi di sana.
Pelaku di bursa saham yang pada dasarnya terdiri dari dua kelompok, yaitu investor dan spekulan, tidak ada yang bisa luput dari pengaruh teknikal yang sedang berlaku di sana. Yang disebut lebih dahulu adalah mereka yang berpatokan jangka panjang karena berharap untuk mendapatkan penghasilan dari dua sumber pendapatan, yaitu dividen dan kenaikan harga saham. Karena dividen hanya dikeluarkan paling cepat setengah tahun sekali, maka investor harus menahan sahamnya selama paling sedikit enam bulan juga. Kenaikan harga saham sepantasnya disebabkan perbaikan kinerja emitennya, namun bisa juga disebabkan faktor lain seperti penurunan suka bunga bank, suasana politik dan keamanan yang bertambah tenang dan baik, dsb. Maka investor akan lebih berhaluan fundamental sehingga mempunyai pekerjaan rumah yang lebih banyak daripada hanya memperhatikan perkembangan harga dan volume.
Kelompok spekulan terutama mengharapkan penghasilan dari kenaikan harga saham, namun bila ada penyelenggaraan short-selling (menjual barang yang tidak dimiliki untuk dibeli dalam batas waktu yang telah ditetapkan), penurunan harga bisa juga menghasilkan keuntungan. Karena spekulan tidak berniat untuk memegang saham lama-lama seperti investor, yang diperhatikannya adalah grafik harga dan volume saja. Meskipun berkesan sederhana, yaitu seolah-olah hanya mengikuti perkembangan dua besaran saja, namun masih ada tiga sub-komponen harga yang lain, yaitu pembukaan, tertinggi, dan terrendah. Kemudian pola pergerakannya masih terbagi dalam dua kategori, yaitu analisis tradisional yang mencakup 19 pola dasar baku serta penggunaan garis lurus, dan analisis dengan komputer. Yang disebut belakangan mencakup enam kelompok, yaitu arah gejala (trend), voatilitas, momentum, siklus, kekuatan pasar serta indikator pendukung dan penghambat, sehingga paing sedikit telah tercipta 92 cara pembacaan atau pelacakan corak grafik. Adalah pengalaman pakar analisis teknikal yang akan menentukan perangkat indikator manakah yang dianggap cocok dalam situasi tertentu. Maka analisis teknikal tidak kalah rumitnya dari analisis fundamental .
Meskipun investor berhaluan fundamental sehingga berkepentingan pada grafik harga jangka panjang (lebih dari satu tahun), tetap ia harus waspada terhadap grafik jangka pendek, karena bisa terjadi bahwa faktor-faktor fundamental yang telah dihitung sebelumnya ternyata tidak dapat diakomodasi perkembangan jangka pendek yang tak terduga sebagaimana terjadi di BEJ dewasa ini.

Peringatan Analisis Teknikal dengan Jatuhnya IHSG secara Tajam
Dengan memperhatikan grafik IHSG jangka panjang sejak bangunnya bursa dari masa tidurnya yang lelap pada tahun 1989 menurut gambar di sini, ternyata telah terjadi dua buah lembah terrendah yaitu pada tanggal 11 November 1991 dan 21 September 1998. Dengan menghubungkan kedua lembah ini kita mendapati garis pendukung (support line) yang menggambarkan daya tahan bursa yang terburuk dalam masa yang bersangkutan selama 12 tahun.
Kemudian pada tahun 2000 kita bisa melihat turunnya IHSG secara tajam dan bila puncak-puncak (ada empat buah) yang telah terbentuk dihubungi satu sama lain, kita mendapati suatu garis penghambat (resistance line) yang memberi petunjuk bahwa kekuatan pasar sedang ditekan ke bawah. Kecuali dalam waktu dekat ada perkembangan positif yang nampaknya harus muncul dalam segi politik yang sedang terasa dominan, maka kekuatan pasar tidak akan dapat menembus garis tersebut. Empat buah gelombang menurun ini merupakan petunjuk mengenai kekuatan tekan yang luar biasa dan semakin banyak pola demikian terjadi, maka semakin besar tenaga pasar yang diperlukan untuk mendobrak pengaruhnya melalui tindakan yang sangat drastis oleh kaum elite poltik agar tidak terjadi perkembangan bunuh diri.
Garis penghambat melawan pemulihan bursa ini akan berlangsung terus bila dibiarkan dan pada bu-lan November 2000, IHSG bisa-bisa menembus garis pendukung pada nilai 269 sebagai pertanda bahwa keadaan ekonomi telah menjadi lebih buruk daripada masa 12 tahun sebelumnya.
Sudah tentu angka tersebut di atas bukanlah ramalan atau proyeksi masa depan, karena hanya menunjuk kepada suatu kemungkinan berdasarkan perkembangan sejarah masa lampau. Jika terjadi tindakan para elite politik yang bisa menghentikan perkembangan dewasa ini yang sedang menuju suatu klimaks bunuh diri, maka angka tersebut tidak akan tercapai.

Yang Kini Masih Dapat Dilakukan Pelaku Bursa Saham
Para investor yang berhaluan jangka panjang sebaiknya bertahan dengan saham dari emiten-emiten yang berfundamental baik, karena dapat diduga bahwa para elite politik juga menyadari bahaya yang sedang dihadapinya bersama masyarakat pada umumnya, para pakar ekonomi khususnya. Bila tetap tidak ada perkembangan positif, tentu posisi mereka perlu dievaluasi lagi pada bulan November.
Para spekulan yang berhaluan jangka pendek masih bisa memanfaatkan gelombang naik-turun yang kemungkinan besar tetap akan terjadi sampai ada perkembangan baru; belilah pada technical rebound dan juallah pada technical drop dan pilihlah saham-saham yang sedang mengalami pola gelombang demikian mengikuti perkembangan IHSG. Gunakanlah arah gejala rata-rata (moving average) jangka pendek, misalnya 10 sampai 30 hari, atau pola dasar baku corak kepala dan bahu menurun. Sudah tentu untuk dapat menemukan saham-saham yang cocok dari sejumlah hampir 300 emiten sambil menerapkan indikator bersangkutan, Anda membutuhkan program komputer analisis teknikal yang sudah tersedia di pasar lokal.
Perhatikanlah bahwa penulis tidak menggunakan istilah "koreksi" (correction) untuk jatuhnya indeks dewasa ini, karena menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, artinya adalah "pembetulan, perbaikan" [kesalahan]. Pasar memang tidak salah untuk menurunkan indeksnya bila elemen-elemen fundamental menunjukkan keadaan ekonomi yang mengkhawatirkan seperti sekarang ini, sehingga koreksi merupakan tindakan keliru. Di samping itu dari segi terminologi kerbursaan, sebagaimana dikemukakan kamus mini majalah Stocks & Commodities, penjelasannya jauh lebih rumit daripada sekedar turunnya harga, karena harus berkaitan dengan arah gejala yang impulsif pada tingkat kerugian yang memenuhi persentase tertentu dari keuntungan yang sebelumnya, seraya koreksi bisa berlaku ke arah harga naik mau pun turun. Rinciannya berada di luar jangkauan tulisan ini; adalah lebih aman dan akurat untuk hanya menggunakan istilah yang jelas: "jatuh, turun atau menukik" daripada "koreksi" meskipun nampak lebih keren dan mengesankan, tetapi bisa keliru,